Langsung ke konten utama

Makalah Ulumul Hadits Semester I PAI

AMTSALUL QUR’AN

Makalah Ini Di Ajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Ulumul Qur’an

Dosen Pengampu :
M.P.I. Rosikhi Tsaqif

Oleh :
Khoirun nisa indrasasi
Ulil iza febriana
Yanggi novita rezky

Fakultas Tarbiah
Jurusan Pendidikan Agama Islam
Sekolah Tinggi Agama Islam Ibrahimy Genteng Banyuwangi
2016


Daftar isi
Cover……………………………………………………………………………………………………………………………………….………………ii
Daftar isi……………………………………………………………………………………………………………………………………..……….. iii
BAB I PENDAHULUAN………………………………………………………………………………………………………..……………………1
BAB II PEMBAHASAN ………………………………………………………………………………………………………..…………………….2
Definisi  Amtsalul Quran …………………………………………………………………………………………………………….2
Macam-Macam Amtsalul Quran………………………………………………….……………………………………………..5
Faedah Mempelajari Amtsalul Quran……………………………………….………………………………………………..8
Hukum Membuat Amtsal Dengan Al-Qur’an……………………………….………………………………...8
BAB III PENUTUP …………………………………………………………………………………………………………..………………………..9
Kesimpulan………………………………………………………………………………………………..……………………………...9
Saran …………………………………………………………………………………………………………………………..…………….9
Daftar pustaka …………………………………………………………………………………………………………..…………………………10







BAB I
      PENDAHULUAN
Hakikat-hakikat yang tinggi makna dan tujuannya akan lebih menarik jika dituangkan dalam kerangka ucapan yang baik dan mendekatkan pada pemahaman, melalui analogi dan sesuatu yang telah diketahui secara yakin. Tamsil (membuat pemisalan, perumpamaan) merupakan kerangka yang dapat menampilkan makna-makna dalam bentuk yang hidup dan mantap didalam pikiran, dengan cara menyerupakan sesuatu yang gaib dengan yang hadir, yang abstrak dengan yang konkrit, dan dengan menganalogikan sesuatu dengan hal yang serupa. Betapa banyak makna yang baik, dijadikan lebih indah, menarik, dan mempesona oleh tamsil. Karena itulah makna tamsil lebih mendorong jiwa untuk menerima makna yang dimaksudkan dan membuat akal meras puas dengannya. Dan tamsil adalah salah satu uslub Qur’an dalam mengungkapkan berbagai penjelasan dan segi-segi kemukjizatan.
Diantara para ulama ada sejumlah orang menulis sebuah kitab yang secara kusus membahas perumpamaan-perumpamaan (amsal) dalam Qur’an, dan ada pula yang hanya membuat satu bab mengenainya dalam salah satu kitab-kitabnya. Kelompok pertama, misalnya, Abu Hasan al-Maward.1  Sedang kelompok kedua, antara lain, as-Suyuti dalam al-itqan2 dan Ibnul Qayyim dalam A’lamul-muwaqqi’in. Bila kita meneliti amsal dalam Qur’an yang mengandung penyerupaan (tasybih) sesuatu dengan hal serupa lainnya dan penyamaan antara keduanya dalam hukum, maka amsal demikian mencapai jumlah lebih dari empat puluh buah.
Allah mengemukakan dalam kitab-Nya yang mulia bahwa ia membuat sejumlah amtsal:
“Dan perumpamaan-perumpamaan itu di buat-Nya untuk manusia supaya mereka berfikir.” (al-hasyr [59]:21).
“Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia: dan tidak ada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” (al-Ankabut [29]:43).
Ia Adalah Abdul Hasan ‘Ali Bin Habib Asy-Syafi’i Penulis Kitab Adabud Dunyu Wad Din dan Al-Ahkamus- Sultaniyah. wafat pada 450 H
Lihat al-itqan, jilid 2, halaman 131.
“Dan sungguh kami telahmembuat bagi manusia di dalam Qur’an ini setiap macam perumpamaan supaya mereka mendapat pelajaran.” (az-Zumar [39]:27).
Dari Ali diriwayatkan, Rasulullah berkata:
“Sesungguhnya Allah menurunkan Qur’an sebagai perintah dan larangan,tradisi yang telah lalu dan perumpamaan yang dibuat.”3
Sebgaimana para ulama menaruh perhatian besar terhadap amsal Qur’an, mereka menaruh perhatian besar terhadap amsal yang di buat oleh Nabi. Abu ‘Isa at-Tirmidzi telah membuat satu bab berisi amsal Nabi dalam kitab Jami’nya, yang memuat empat puluh buah hadits. Qadi Abu Bakar ibnul ‘Arabi berkata: “Aku tidak melihat di antara para ahli hadis, seseorang yang menulis satu bab khusus tentang amsal  Nabi selain abu ‘Isa. Sungguh sangat mengagumkan ia!ia telah membuka sebuah pintu dan membangun sebuah istana atau rumah. Sekalipun ia hanya menulisnya hanya sedikit, namun kita merasa puas dan patut berterima kasih kepadanya.”

BAB II
      PEMBAHASAN
Definisi amsal
Amsal adalah bentuk jamak dari masal. Kata masal, misl dan masil adalah sama dengan syabah, syibh, baik lafadz maupun maknanya. Dalam sastra masal adalah suatu ungkapan perkataan yang dihikayatkan dan sudah popular dengan maksud menyerupakan keadaan yang terdapat dalam perkataan itu dengan keadaan sesuatu yang karenanya perkataan itu diucapakan. Maksudnya, menyerupakan sesuatu (seseorang, keadaan) dengan apa yang terkandungdalam perkataan itu. Misalnya, رُبَّ رَمْيَةٍ مِنْ غًيْرِرَامٍ (Betapa banyak lemparan panah yang mengenai tanpa sengaja). Artinya, beapa banyak lemparan tanah yang mengenai sasaran itu dilakukan seorang pelempar yang biasanya tidak tepat lemparannya. Orang yang pertama mengucapkan masal ini adalah al-Hakam bin Yagus an-Nagri. Masal ini ia katakan kepada orang yang biasanya berbuat
Hadits Tirmidzi
salah yang kadang-kadang ia berbuat benar. Atas dasar ini, masal harus mempunyai maurid (sumber) yang kepadanya sesuatu yang lain diserupakan.
Kata masal digunakan pula untuk menunjukkan arti “keadaan” dan “kisah yang menakjubkan”. Dengan pengertian inilah ditafsirkan kata-kata “masal” dalam sejumlah besar ayat. Misalnya firman Allah:
“(Apakah) masal surga yang didalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya…” (Muhammad  [47]:15).4 Maksudnya, kisah dan sifat surga yang sangat mengagumkan.
Zamakhsyari telah mengisyaratkan akan ketiga arti ini dalam kitabnya. Al-Kasysyaf. Ia berkata:nasal menurut perkataan mereka berarti al-misl dan an-nazir (yang serupa, yang sebanding). Kemudian setiapperkataan yang berlaku, popular yan menyerupakan sesuatu (orang, keadaan dan sebagainya) dengan “maurid” (atau apa yang terkandung dalam) perkataan itu disebut masal. Mereka tidak menjadikan sebagai masal dan tidak memandang pantas untuk dijadikan masal dan tidak memandang pantas untuk dijadikan masal yang layak diterima dan dipopulerkan kecuali perkataan yang mengandung keanehan dari beberapa segi. Dan katanya lebih lanjut, “masal” dipinjam (dipakai secara pinjaman) untuk menunjukkan keadaan, sifat atau kisah jika ketiganya di anggap penting dan mempunyai keanehan.
Masih terdaoat makna lain, yakni makna keempat, dari masal menurut ulama Bayan. Menurut mereka, masal adalah majaz murakkab yang ‘alaqah-nya musyabahah jika penggunanya telah popular. Majaz’ ini pada asalnya adalah isti’arah tamsiliyah, seperti kata-kata yang diucapkan terhadap orang yang ragu-ragu dalam melakukan suatu urusan: (Mengapa aku lihat engkau melangkahkan satu kaki dan mengundurkan satu kaki yang lain?)
Dikatakan pula definisi masal ialah menonjolkan sesuatu makna (yang abstrak) dalam bentuk yang indrawi agar menjadi indah dan menarik. Dengan pengertian ini maka masal tidak disyaratkan pula harus berupa majaz murakkab.
Apabila memperhatikan masal-masal Qur’an yang disebutkan oleh para pengarang, kita dapatkan bahwa mereka mengemukakan ayat-ayat yang berisi penggambaran keadaan suatu hal
Lihat Balagah Qur’an Oleh Ustaz Muhammad Al-Khidir, Halaman 26
dengan keadaan hal lain, baik penggambaran itu dengan cara isti’arah maupun dengan tasybih sarih (penyerupaan yang jelas); atau ayat-ayat yang menunjukkan makna menarik dengan redaksi ringkas dan padat; atau ayat-ayat yang dapat dipergunakan bagi sesuatu yang menyerupai dengan apa yang berkenaan dengan ayat itu. Sebab Allah mengungkapkan ayat-ayat itu secara langsung, tanpa sumber yang mendahuluinya.
Dengan demikian, maka amsal Qor’an tidak dapat diartikan dengan arti etimologis, asy-syabih dan an-nazir. Juga tidak tepat diartikan dengan pengertian yang disebutkan pada kitab-kitab kebahasaan yang dipakai oleh para pengubah masal-masal, sebab amsal Qur’an bukanlah perkataan-perkataan yang telah dipergunakan untuk menyerupakan sesuatu dengan isi perkataan itu. Juga tidak tepat diartikan dengan arti masal menurut ulama Bayan, karena di antara amsal Qur’an ada yang bukan isti’aroh dan penggunanya pun tidak begitu populer. Oleh karena itu maka definisi terakhir lebih cocok dengan pengertian amsal dalam Qur’an. Yaitu, menonjolkan makna dalam bentuk (perkataan) yang menarik dan padat serta mempunyai pengaruh terhadap jiwa, baik berupa tasybih ataupun perkataan bebas (lepas, bukan tasybih) .
Ibnul Qayyim mendefinisikan amsal Qur’an dengan “menyerupakan sesuatu dengan sesuatu yang lain dalam hal hukumnya, dan mendekatkan sesuatu yang abstrak (m’aqul) dengan yang indrwi (konkrit, mahsus), atau mendekatkan salah satu dari dua mahsus dengan yang lain dan mengangap salah satunya itu sebagai yang lain.”
Lebih lanjut ia mengemukakan sejumlah contoh. Contoh-contoh tersebut sebagian besar berupa penggunaan tasybih sarih seperti firman Allah:
“Sesungguhnya masal duniawi itu adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit.”(Yunus [10]:24). Sebagian lagi penggunaan tasybih dimni (penyerupaan secara tidak tegas, tidak langsung), misalnya:
“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang dari kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.” (al-Hujurat [49]:12) dikatakan dimni karena dalam ayat ini tidak terdapat tasybih maupun isti’arah seperti firmannya:
“Wahai manusia, telah dibuat sebah perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kalian seru selain Allah sekali-kali tidak bisa menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu meampas sesuatu dari mereka, tidaklah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.”(al-Hajj [27]:73). Firman-Nya, “sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak bisa mencitakan seekor lalat pun. Oleh Allah disebut dengan masal padahal di dalamnya tidak terdapat isti’arah maupun tasybih.
Macam-macam amsal dalam Qur’an
Amsal didalam Qur’an ada tiga macam; amsal musarrahah, amsal kaminah, dan amsal mursalah.
Amsal musarrahah, ialah yang didalamnya dijelaskan dengan lafaz masala tau sesuatu yang menunjukkan tasybih. Amsal seperti ini dapat ditemukan dalam Qur’an dan beikut ini beberapa diantaranya:
Firman Allah mengenai orang munafik:
“perumpamaan (masal) mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya, Allah menghilangkan cahaya (yang menyinari) mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (kejalan yang benar). Atau seperti (orang-orng yang ditimpa) hujanlebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat…”sampai dengan “Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.” (al-Baqarah [2]:17-20).
Di dalam ayat-ayat ini Allah membuat dua perumpamaan (masal) bagi orang munafik; masal yang berkenaan dengan api (nari) dalam firman-Nya “adalah seperti orang yang menyalakan api..”, karena di dalam api terdapat unsur cahaya ; dan masal yang berkenaan dengan air (ma’i), “atau seperti (orang-orang yang di timpa) hujan lebat dari langit…”, karena di dalam air terdapat materi kehidupan. Dan wahyu yang turun dari langit pun bermaksud untuk menerangi hati dan menghidupkannya.
Allah menyebutkan pula dua macam masal, ma’I dan nari, dalam surat ar-Ra’d, bagi yang hak dan yang batil:
“Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalir lah air dilembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat pehisan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buihnya arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan, masal, (bagi) yang benar dan yang batil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia etap dibumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.” (ar-Ra’d [13]:17).
Wahyu yang di turunkan Allah dari langit untuk kehidupan hati di serupakan dengan air hujan yang diturunkan-Nya untuk kehidupan bumi dengan tumbuh-tumbuhan. Dan hati diserupakan dengan lembah, arus air yang mengalir dilembah, membawa buih dan sampah. Begitu pula dengan hidayah dan ilmu bila mengalir ke hati akan berpengaruh terhadap nafsu syahwat, dengan menghilangkannya. Inilah masal ma’i dalam firmannya. “Dia telah menurunkan air hujan dari langit …” Demikianlah Allah membuat masal bagi yang hak dan yang batil.  Megenai masal nari, di kemukakan dalam firman-Nya, “Dan dari apa logam yang mereka lebur dalam api…” Logam, baik emas, perak , tembaga, maupun besi, ketika dituangkan kedalam api maka api akan menghilangkan kotoran, karat, yang  melekat padanya, dan memisahkannya dari subtansi yang dapat dimanfaatkan, sehingga hilanglah karat itu dengan sia-sia. Begitu pula syahwat akan dilemparkan dan dibuang dengan sia-sia oleh hati orang mukmin sebagaimana arus air menghanyut sampah atau pai melemparkan karat logam.
Amsal kaminah yaitu yang di dalamnya tidak disebutkan dengan jelas lafadz tamsil (pemisalan) tetapi ia menunjukkan makna-makna yang indah, menarik, dalam kepadatan redaksinya dan mempunyai pengaruh tersendiri bila di pindahkan kepada yang serupa dengannya.
Ayat–ayat yang senada dengan perkataan:  (Sebaik-baik urusan adalah pertengahannya), yaitu:
Firman Allah mengenai infaq:
“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada leher mu dan jangan (pula) terlalu mengulurkannya.” (al-Isra’ [17]:29)
Firman-Nya tentang nafkah:
“Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam salatmu dan jangan pula merendahkannya, dan carilah jangan tengah di ntara keduanya itu.” (al-Isra’ [17]:110).
 Ayat yang senada dengan perkataan : (kabar itu tidak sama dengan menyaksikan sendiri). Misalnya firman Allah tentang Ibrahim:
“Allah berfirman ‘apakah kamu belum percaya ? Ibrahim menjawab:’Saya telah percaya, akan tetapi agar bertambah tetap hati saya.” (al-Baqarah [2]:260).
Amsal mursalah, yaitu kalimat-kalimat bebas yang tidak menggunakan lafaz tasybih secara jelas. tetapi kalimat-kalimat itu berlaku secara masal, contoh:
“sekarang ini jelaslah kebenaran itu.” (Yusuf [12]:51)
“ tidak ada yang menyatakan terjadinya hari itu selain dari Allah.” (an-Najm [53]:58).
Para ulama berbeda pendapat tentang ayat-ayat yang mereka namakan  amsal mursalah ini, apa atau bagaimana hukum mempergunakannya sebagai masal?
Sebagian ahli ilmu memandang hal demikian sebagian telah keluar dari adab Qur’an. Berkata ar-Razi ketika menafsirkan ayat,  “untukmu lah agamamu, dan untukulah agamaku.” (al-Kafirun [109]:6): “sudah menjadi tradisi orang, menjadikan ayat ini sebagai masal (untuk membela, membenarkan perbuatannya). Ketika ia meninggalkan agama, padahal hal demikian tidak dibenarkan, sebab Allah menurunkan Qur’an untuk dijadikan masal, tetapi untuk direnungkan dan kemudian diamalkan isi kandungannya. Golongan lain ada yang berpendapat lain yaitu bila seseorang mempegunakan masal dalam keadaan yang sungguh-sungguh, misalnya ia sangat merasa sedih karena tertimpa bencana, sedangkan sebab-sebab tersingkapnya bencana itu telah terputus dari manusia, lalu ia mengatakan, tidak ada yang menyingkapkannya selain dari Allah.” (an-Najm [53]:58). Atau ia diajak berbicara oleh penganut ajaran sesat yang berusaha membujuknya untuk mngikuti ajarannya itu, maka ia menjawab: “untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku,” (al-Kafirun [109]:6). Tetapi dosa besarlah seseorang yang dengan sengaja berpura-pura pandai lalu ia menggunakan Qur’an sebagai masal, sampai-sampai ia terlihat bagai sedang bersenda gurau.5
Faedah-faedah amsal
Menonjolkan sesuatu yang hanya bisa dijangkau akal, abstrak dalam bentuk konkrit yang dapat dirasakan oleh indra manusia, sehingga akal mudah menerimanya.
Menyingkapkan hakikat-hakikat dan mengmukakan sesuatu yang tidak tampak seakan-akan sesuatu yang tampak.
Mengumpulkan makna yang menarik lagi indah dalam ungkapan yang padat, seperti amsal kaminah dan amsal mursalah.
Mendorong orang yang diberi masal untuk berbuat sesuai dengan isi masal, jika ia merupakan sesuatu yang disenangi jiwa.
Menjauhkan (tanfir, kebalikan no.4), jika isi masal sesuatu yang dibenci jiwa.
Membuat masal dengan Qur’an
Telah menjadi tradisi para sastrawan, menggunakan amsal di tempat-tempat yang kondisinya serupa atau sesuai dengan isi amsal tersebut. Jika hal demikian dibenarkan dalam ucapan-ucapan manusia yang telah berlaku sebagai masal, maka para ulama tidak menyukai pengunaan ayat-ayat Qur’an sebagai masal. Mereka tidak memandang perlu bahwa orang harus membacakan sesuatu ayat amsal dalam kitabullah ketika ia menghadapi suatu urusan duniawi. Hal ini demi menjaga keagungan Qur’an dan kedudukannya dalam jiwa orang-orang mukmin.
Abu ‘Ubaid berkata, “Demikianlah, seseorang yang ingin bertemu dengan sahabatnya atau ada kepentingan dengannya, tiba-tiba sahabat itu datang tanpa diminta, maka ia berkata kepadanya secara humor: “kamu datang menurut waktu yang di tetapkan wahai Musa” (Ta Ha [20]:40). Perbuatan demikian merupakan penghinaan tehadap Qur’an.” Ibn Syihab az-Zuhri berkata, “janganlah kamu menyerupakan sesuatu dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah.” Maksudnya kata Abu Ubaid,  janganlah kamu menjadikan bagi keduanya sesuatu perumpamaan, baik berupa ucapan maupun perbuatan.

Balagatul Qur’an, halaman 33
BAB III
        PENUTUP
Kesimpulan
Dalam sastra masal adalah suatu ungkapan perkataan yang dihikayatkan dan sudah popular dengan maksud menyerupakan keadaan yang terdapat dalam perkataan itu dengan keadaan sesuatu yang karenanya perkataan itu diucapakan.
Kata masal digunakan pula untuk menunjukkan arti “keadaan” dan “kisah yang menakjubkan.

Saran
Sebagian ahli ilmu memandang hal demikian sebagian telah keluar dari adab Qur’an. Berkata ar-Razi ketika menafsirkan ayat,  “untukmu lah agamamu, dan untukulah agamaku.” (al-Kafirun [109]:6): “sudah menjadi tradisi orang, menjadikan ayat ini sebagai masal (untuk membela, membenarkan perbuatannya). Ketika ia meninggalkan agama, padahal hal demikian tidak dibenarkan, sebab Allah menurunkan Qur’an bukan untuk dijadikan masal, tetapi untuk direnungkan dan kemudian diamalkan isi kandungannya. Golongan lain ada yang berpendapat lain yaitu bila seseorang mempegunakan masal dalam keadaan yang sungguh-sungguh saja dan tidak di salah gunakan dan salah artikan dalam kehidupan sehari-hari.










Daftar Pustaka
Riyadh diterjemahkan dari bahasa arab oleh mudzakir AS , Manna’ Khalil al-Qattan, Bogor : Pustaka Litera Antar Nusa, 2013

Komentar